Latar Belakang

PT BIOPS AGROTEKNO INDONESIA

merupakan perusahaan yang bergerak pada inovasi teknologi bidang pertanian. Kami percaya bahwa kemajuan pertanian dan kemandirian pertanian Indonesia akan terwujud dengan adanya inovasi teknologi dan dengan bersama – sama mendorong minat warga Indonesia dalam melakukan kegiatan bertani.

When technology meets farming, simplicity !“ dengan mengusung kemudahan melakukan kegiatan pertanian menggunakan teknologi, kami menawarkan konsep precision farming sebuah konsep pertanian terukur yang menyesuaikan pemberian air dan nutrisi dengan kebutuhan tanaman, yang semua kegiatan tersebut dilakukan secara otomatis dan dapat dipantau secara real time melalui aplikasi di smartphone.

 

LATAR BELAKANG

Pertanian merupakan sektor yang sangat penting bagi negara sebesar Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 249,9 juta jiwa (2013), pangan merupakan sektor yang sangat vital bagi negeri ini. Sayangnya Indonesia seringkali tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut dan terpaksa bergantung kepada negara lain. Fakta tersebut dapat dilihat pada Buletin Triwulanan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian – Kementrian Pertanian RI. Dari data tersebut diketahui bahwa kontribusi Impor terbesar pada tahun 2014 pada bulan Januari – Desember berasal dari sub sektor tanaman pangan sebesar 48,27 % dengan nilai impor mencapai US$ 7,66 milyar.

Produksi pertanian dalam negeri yang tidak maksimal menyebabkan besarnya impor tanaman pangan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan produksi dalam negeri tidak maksimal, antara lain cuaca, serangan hama dan masih tradisionalnya sistem pertanian dalam negeri. Cuaca di berbagai belahan dunia tidak dapat terprediksi lagi akibat perubahan iklim. Musim panas yang panjang menyebabkan kekurangan sumber air dan berdampak pada kekeringan termasuk pada lahan pertanian. Hujan lebat yang terjadi pada waktu yang cukup lama menyebabkan banjir di beberapa daerah dan menggenangi lahan pertanian. Serangan berbagai hama juga menyebabkan kegagalan panen di beberapa daerah. Faktor yang tidak kalah penting yang memiliki andil terhadap tidak maksimalnya produktivitas pertanian adalah masih minimnya penggunaan teknologi pada sektor pertanian. Para petani masih menggunakan cara turun temurun dan tidak banyak yang memanfaatkan teknologi.

Negara dengan iklim yang tidak sebaik negara tropis seperti Indonesia berusaha mengembangkan teknologi yang dapat mendukung sistem pertanian mereka. Jepang, negara dengan empat iklim, dimana matahari (hanya optimal pada musim panas) tidak selalu bersinar di sepanjang tahun mencoba mengembangkan pertanian dalam ruangan. Konsep tersebut membuat Jepang dapat menanam berbagai tanaman di dalam ruangan dan tanpa terpengaruh oleh musim. Israel, negara dengan kondisi geografis yang suplai air bakunya terbatas, mencoba mengembangkan sistem irigasi tetes untuk mengefisiensikan penggunaan air. Sistem irigasi tersebut mencoba menganalisis kebutuhan air pada tanaman dengan melihat umur tanaman dan juga jenis tanaman. Kedua negara tersebut merupakan beberapa contoh negara yang coba mengadaptasi teknologi pada pertanian mereka. Pada World Economic Forum 2016 yang diadakan di Davos, Swiss, seperti diberitakan KOMPAS, 27 Januari 2016, dunia saat ini akan memasuki revolusi keempat yaitu era kecerdasan buatan. Robot, drone dan semua teknologi otomasi disebut-sebut sebagai bagian dari revolusi keempat tersebut. Pertanian pun juga diramalkan akan menggunakan teknologi-teknologi tersebut.

Selain beberapa faktor tersebut, pupuk juga menjadi salah satu kendala pertanian di Indonesia. Kelangkaan dan mahalnya harga pupuk menambah permasalahan pertanian di Indonesia. Pemberian pupuk yang optimum dan sesuai takaran dapat membantu petani meningkatkan produktivitas tanaman dan menekan ongkos produksi. Dengan adanya hal tersebut maka secara tidak langsung akan meningkatkan taraf hidup petani dalam negeri, yang merupakan salah satu jenis pekerjaan utama masyarakat Indonesia.

Kondisi alam Indonesia yang sangat baik dan besarnya jumlah petani yang ada harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengan penerapan kebijakan yang tepat dan didukung oleh teknologi yang aplikatif untuk diterapkan pada ranah pertanian maka keinginan untuk dapat mandiri pangan bahkan swasembada pangan bukan lagi hanya sebuah mimpi semata. Di era pasar bebas ini Indonesia harus dapat bersaing dan menggugah minat masyarakatnya untuk menjadi petani. Sebagian besar dari mereka menganggap remeh profesi sebagai petani terlebih lagi anak muda Indonesia. Said Abdulah, Manajer Advokasi dan Jaringan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, berkata bahwa jika dikategorikan usia petani Indonesia pada 2014 terdiri 61,8 persen berusia lebih 45 tahun, 26 persen berusia 35-44 tahun dan 12 persen berusia kurang dari 35 tahun. Selain itu jumlah petani dari tahun ke tahun terus berkurang. Menurut data survey pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik, diketahui jumlah rumah tangga usaha tani di Indonesia pada 2003 masih 31,17 juta, tapi sepuluh tahun kemudian (2013) jumlahnya menyusut jadi 26,13 juta. Turun sekitar 5 juta selama sepuluh tahun atau jika dirata-rata 1,75 persen per tahun. Jika hal ini terus terjadi maka lahan pertanian maupun petani itu sendiri dapat dikuasai oleh negara lain yang saat ini dapat dengan mudah masuk ke Indonesia.

Be Informed! Sign up for newsletter